Kamis, 01 Desember 2011

Si Kecil Masuk Pra-sekolah, Efektifkah?

Saat ini taman kanak-kanak (TK) dan prasekolah bermunculan di mana-mana. Para orang tua berpikir TK dan prasekolah mempersiapkan anak untuk berpikir dan belajar yang membantu kesuksesan anak-anaknya di masa depan.

Namun, sebuah studi baru mengungkap bahwa peranan prasekolah tidak sepenting apa yang kebanyakan orangtua bayangkan.

Seperti yang VIVAnews kutip dari Momlogic, Profesor Dartmouth Elizabeth Cascio mengatakan mendaftarkan siswa di prasekolah atau taman kanak-kanak dan mungkin hanya memiliki sedikit efek pada kesuksesan mereka di masa depan.

Studi di California AS menemukan orang-orang yang dianggap relatif sukses adalah anak yang lahir antara tahun 1954 dan 1978 di 24 negara bagian di mana hanya sebagian yang menjalani aktivitas di prasekolah. Cascio menemukan, kehadiran taman kanak-kanak tak banyak mempengaruhi prestasi siswa di masa depan. Bahkan, tidak ada korelasi kuat antara kehadiran TK dan gaji yang lebih tinggi setelah lulus dari SMA atau universitas.

Cascio percaya temuannya dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan apakah manfaat pendidikan dini lebih besar daripada biaya yang harus dikeluarkan orangtua. "Kita ingin melihat (potensi) efek jangka panjang dari program-program yang diusulkan. Temuan ini berguna untuk melihat efek jangka panjang dari program-program masa lalu."

Di AS sendiri mewajibkan TK bagi setiap anak masih menjadi perdebatan. Menurut Cascio, untuk melihat efek wajib TK yang akan diberlakukan hasilnya baru terlihat di tahun-tahun mendatang.

Waktu Main Ayah-Anak, Kunci Keluarga Bahagia

Lama waktu yang dihabiskan ayah untuk bermain bersama anak-anak mereka merupakan salah satu penentu utama kebahagiaan sebuah keluarga. Studi terbaru dari peneliti Meulborne Australia menemukan, keluarga dengan ayah melewati waktu luang lebih banyak bersama anak-anak tanpa bantuan ibu di dekat mereka cenderung lebih bahagia.

"Anak-anak membutuhkan ayah berada di sekitar mereka dan menjadi bagian kehidupan mereka. Budaya kita hanya membebankan perawatan kepada para ibu," ucap salah satu peneliti Universitas Melbourne, Margot Prior, dikutip Sydney Morning Herald.

Penelitian melibatkan 110 keluarga di Melbourne dengan anak-anak berusia 3-12 tahun. Para ayah dalam studi yang menghabiskan waktu lebih banyak bersama buah hatinya mengaku, merasa anak mereka lebih bahagia sama seperti yang mereka alami. Mereka juga mengaku dapat meningkatkan kemampuan dan berperan dalam merawat anak-anak mereka.

"Perawatan yang dilakukan orang tua merupakan interaksi. Ini berarti ayah bertanggung jawab dalam membuat keputusan bagi anak-anaknya selama waktu itu," kata Prior.

Sebuah survei yang dilakukan Dewan Jasa Keuangan Australia menemukan, 71 persen ayah di Australia menghabiskan waktu kurang dari empat jam sehari bersama anak-anak mereka dibanding 43 persen ibu.

Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Early Child Development and Care.