Selasa, 14 Februari 2012

Perlengkapan Dasar Buat Persiapan Ibu baru


Menjelang proses melahirkan, ada baiknya kita  Berbelanja keperluan bayi terlebih dahulu. Ada banyak pilihan yang cantik, dengan warna-warni yang juga menarik. Terkadang Anda seperti ingin membeli semuanya. Namun, Anda juga perlu ingat bahwa perlengkapan bayi itu ada batas masa pakainya. Begitu bayi telah bertumbuh besar, barang itu tidak lagi dipakai (kecuali Anda berencana memiliki anak lagi). Karenanya, sebaiknya Anda merencanakan dulu apa akan dibeli, agar tidak memboroskan anggaran.

Baik Anda tipe ibu "minimalis" (yang membeli perlengkapan seperlunya saja) atau tipe "shopaholic" yang senang berbelanja, berikut ini adalah delapan perlengkapan yang tidak boleh dilupakan saat berbelanja.

1. Tempat tidur bayi
Jika Anda ingin tempat tidur model klasik, carilah yang kerangka tempat tidurnya kokoh, sehingga tidak mudah terbalik. Jangan lupakan juga perlengkapan tambahan seperti bantal, guling, dan selimut.

2. Kereta dorong (stroller)
Untuk jangka pendek, pilihan yang paling tepat adalah car seat carrier, semacam kursi bayi yang bisa dipasang di mobil namun bisa dilepas dan dipasang pada kerangka kereta saat berjalan-jalan. Namun, mengingat kursi semacam ini umurnya pendek, lebih baik Anda memilih kereta dorong konvensional yang bisa disesuaikan tempat duduknya dengan kondisi bayi. Carilah kereta dorong dengan pegangan yang bisa disesuaikan tingginya, serta dapat bermanuver dengan gesit saat Anda mendorongnya.

3. Tempat duduk di mobil (car seat)
Pilihan terbaik adalah jenis convertible car seat, yang khusus dipasang di mobil, dan bisa dipakai sejak bayi masih kecil hingga batita. Carilah yang tali serta sandaran duduknya dapat dengan mudah dipasang dan disesuaikan, serta disertai bantalan yang empuk, khususnya di bagian kepala.

4. Popok sekali pakai (diaper)
Belilah dalam stok yang banyak dan cari merek yang cocok dengan bayi Anda. 

5. Botol susu dan pompa ASI
Jika Anda berencana akan kembali bekerja sambil tetap memberikan ASI eksklusif bagi bayi, belilah pompa ASI yang berkualitas baik. Pilihannya adalah yang elektrik sehingga bisa memerah ASI dari dua payudara sekaligus, atau pompa manual yang lebih menyita waktu. Lengkapi juga dengan botol susu dan dot yang sesuai. Menurut Jay Gordon, MD, dokter spesialis anak dari Santa Monica, saat memilih dot Anda perlu memerhatikan agar dapat membuat susu mengalir dengan lancar.

"Ini lebih penting daripada memilih bentuk botol susunya," kata Gordon. Dot dari karet lebih lunak dan fleksibel dibandingkan dengan silikon, namun Anda perlu sering menggantinya karena dalam waktu singkat dot karet akan mudah berubah bentuk.

6. Gendongan bayi (carrier)
Gendongan ini dibutuhkan apabila Anda sering mengajaknya berjalan-jalan, namun tidak bisa membawa kereta dorong. Anda bisa mencari gendongan yang dapat dipakai di depan maupun belakang. Pilih yang memiliki tali bahu tebal, kokoh, dan gespernya mudah dibuka. Jika terdapat penyokong kepala untuk bayi, akan lebih baik lagi.

7. Peralatan kesehatan
Pastikan Anda memiliki kotak obat khusus untuk bayi, yang berisi termometer digital, penyedot hidung, gunting kuku bayi, alat tetes obat dan sendok obat, masing-masing disimpan dalam plastik bersih.

8. Bak mandi
Pilih bak mandi yang memungkinkan bayi dibaringkan tanpa tergelincir dari tangan, lalu lengkapi juga dengan spons mandi yang lembut dan sabun.





Sabtu, 04 Februari 2012

Ucapan Kepada Anak yang Wajib dihindari


Orang tua Merupakan sosok yang sangat penting dan berpengaruh dalam Kehidupan seorang anak, baik tingkah laku orang tua maupun ucapan orang. Terkadang, permasalahan di kantor, konflik dengan suami, atau permasalahan keluarga malah membuat Anda kesal ketika berhadapan dengan sikap anak yang kurang menyenangkan.

Apalagi jika si kecil meminta macam-macam kepada Anda, sehingga tidak menutup kemungkinan Anda mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh diucapkan ke buah hati tercinta. Tentu saja, hal tersebut akan meninggalkan luka tersendiri bagi anak Anda. 

Berikut sembilan hal yang sebaiknya jangan diucapkan orangtua kepada buah hatinya seperti dilansir Parenting :

1. "Pergi! Mama ingin sendiri dulu"
        Ketika Anda mengatakan kalimat ini kepada si kecil, Suzette Haden Elgin, Ph.D., pendiri Ozark Center for Language Studies mengatakan bahwa anak akan menginternalisasi kalimat tersebut dan berpikir tidak ada gunanya untuk berusaha berbicara kepada Anda karena mereka selalu diusir. Selain itu, jika Anda terbiasa mengatakan hal ini kepada anak, ketika dewasa ia akan terbiasa pula mengatakan hal yang sama kepada orang lain.
             Ketimbang mengucapkan kalimat di atas, ketika Anda memang sibuk coba katakan pada anak, "ada yang ibu harus kerjakan dan selesaikan, jadi ibu ingin kamu menggambar dulu sendiri ya beberapa menit. Kalau ibu sudah selesai, ibu akan menyusul". Anda juga harus realistis, anak-anak yang berusia balita dan pre school tidak bisa membuat diri mereka sendiri tenang selama beberapa jam.

2. "Kamu itu..."
        Memberikan label adalah jalan pintas untuk mengubah anak-anak. Jika Anda mengatakan "kamu itu memang pemalas," maka ia akan ikut melabeli dirinya secara tidak langsung dan menganggap dirinya memang pemalas dan tidak ada yang dapat diubah. Jika kita memberikan label yang buruk kepada anak seperti bodoh, nakal, dan sebagainya, maka hal tersebut akan terus melekat dan bisa saja menjadi identitas dirinya yang ia internalisasi hingga dewasa. 
      Sebaliknya, jika Anda mengatakan "kamu anak yang pintar," ia akan mengira Anda memiliki ekspektasi yang besar untuknya dan hal tersebut tentu saja dapat menjadi suatu beban tersendiri baginya. Jika Anda ingin untuk mengubah tingkah laku si kecil, lebih baik katakan secara jelas dan spesifik apa yang sebaiknya ia lakukan dan apa yang sebaiknya tidak ia lakukan tanpa memberi label untuknya.

3. "Jangan menangis"
    "Jangan sedih!," atau "jangan seperti anak kecil" merupakan variasi lain dari kalimat di atas. Jika Anda perhatikan, anak-anak belum bisa menyalurkan emosinya melalui kata-kata. Mereka tertawa ketika mereka senang, dan sudah pasti mereka menangis jika mereka sedih. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah. 
      "Sebenarnya, wajar bila orang tua tidak ingin anaknya merasa sedih atau menangis. Tetapi, dengan mengatakan "jangan" dan "tidak" kepada anak tidak akan membuat anak tersebut merasa lebih baik. Bahkan, hal tersebut akan menimbulkan kesan bahwa emosi mereka tidak benar dan tidak baik untuk merasa sedih atau takut," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur dari Family Support Services di Nova Southeastern University, Florida, Amerika Serikat. 
        Daripada Anda memintanya jangan menangis, cobalah pahami emosi atau kesedihannya. "Ibu tahu kamu takut sekolah tidak ditemani ibu. Tapi di sana ada ibu guru yang bisa jadi pengganti ibu sebentar dan ada teman-teman kamu. Kalau kamu masih takut, ibu selalu ada di luar dan kamu bisa bertemu aku kapanpun kamu mau. Ibu janji nggak akan ninggalin kamu sendirian".
        Dengan memahami kesedihannya, Anda bisa memberinya contoh bagaimana mengekspreksikan perasaannya. Anda juga menunjukkan padanya bagaimana bersikap empati. Di kemudian hari, anak pun jadi tidak lagi terlalu sering menangis dan bisa mengekspreksikan kesedihannya.

4. "Kenapa kamu tidak seperti dia?"
      Wajar bagi orang tua untuk membanding-bandingkan si kakak dengan si adik, atau membandingkan anak dengan temannya yang lain. Tapi, membanding-bandingkan anak Anda bukanlah cara yang efektif untuk mengubah perilakunya. Anak memiliki fase tersendiri untuk belajar, memiliki temperamennya masing-masing, juga kepribadiannya yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. 
        Membandingkan anak Anda akan menyiratkan bahwa Anda ingin ia tidak menjadi dirinya sendiri dan hal tersebut justru malah akan menyakiti hatinya. Selain itu, membanding-bandingkan anak juga dapat merusak kepercayaan dirinya. Lebih baik, berikan apresiasi dan pujian atas tingkah lakunya yang Anda sukai agar dapat mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kembali.

5. "Lho, hanya begini hasilnya?"
      Sama seperti membanding-bandingkan, anak Anda juga pasti akan tersakiti hatinya jika Anda mengatakan kalimat tersebut kepadanya. Belajar adalah suatu proses untuk mencoba dan melakukan kesalahan hingga anak Anda akhirnya berhasil untuk menguasai suatu hal. Kalimat ini tidak akan menyemangatinya untuk terus menguasai hal tersebut, malah hanya akan menyakitinya dan membuatnya malas untuk kembali belajar.
         Jika anak Anda terus melakukan kesalahan, memberikan semangat dengan berkata "sepertinya akan lebih baik jika kamu menyelesaikannya dengan cara seperti ini," akan lebih memotivasinya dibandingkan dengan terus mengejeknya.

6. "Berhenti, atau..."
          Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk ancaman. Jika Anda sering mengatakan ini kepada anak, cepat atau lambat ancaman ini tidak akan berpengaruh lagi terhadap anak dan bahkan anak akan menganggap ancaman sebagai suatu hal yang biasa. "Hasil riset menunjukkan bahwa, 80% anak dua tahun akan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukannya hari ini, keesokan harinya, tak peduli disiplin seperti apa yang Anda terapkan," kata Murray Straus, Ph.D., seorang sosiolog di University of New Hampshire. 
           Jadi sebaiknya Anda tidak lagi memberinya ancaman. Akan lebih efektif untuk menerapkan taktik misalnya memberikan anak arahan yang sama, menjauhkan anak dari situasi serupa atau memberinya time-out. 

7. "Tunggu sampai Mama pulang ke rumah!"
           Ini adalah salah satu bentuk lain dari ancaman. Akan tetapi, ancaman seperti ini akan lebih tidak efektif karena jika anak melakukan suatu kesalahan, sebaiknya Anda menanganinya secara langsung dan secepat mungkin sehingga tidak ada penundaan. Selain itu, bisa jadi setelah Anda pulang, anak Anda telah melupakan kesalahannya. Hal lain yang membuat ancaman tersebut kurang efektif adalah anak Anda yang akan lebih berfokus kepada cara untuk mencegah hukuman daripada fokus terhadap tingkah lakunya yang salah apabila Anda melakukan penundaan dalam menangani tingkah lakunya.

8. "Ayo, cepat!"
            Anda pasti akan merasa stres saat terlambat bangun pagi, jalanan macet, kurang tidur, atau memiliki banyak pekerjaan di kantor yang harus Anda selesaikan segera. Anda pun kemudian meminta si kecil untuk buru-buru agar Anda tidak terlambat. Jika Anda kerapkali mengeluh, mendesah, atau bahkan merengek agar anak buru-buru sebaiknya Anda perlu berhati-hati. Hal tersebut cenderung menimbulkan perasaan bersalah pada anak, akan tetapi tidak membuat mereka termotivasi untuk bergerak lebih cepat.

9. "Hebat! atau "anak baik!"
            Memang, tidak ada salahnya untuk memuji anak Anda. Tapi kesalahan dari suatu pujian adalah ketika pujian berlebihan diberikan untuk tingkah laku anak yang biasa saja. Misalnya, kalimat seperti "wah, kamu sangat hebat!," dilontarkan kepada anak yang telah terbiasa menghabiskan susunya setiap hari, akan menjadi kurang berarti. 
           Anak-anak dapat membedakan mana pujian yang dilontarkan untuk sesuatu yang sederhana, dan pujian untuk suatu tingkah lakunya yang memerlukan usaha lebih. Lebih baik, berikan pujian untuk usaha keras yang telah anak Anda lakukan seperti menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit, atau pada hal yang jarang anak Anda lakukan tetapi sekarang ia berhasil melakukannya. Pujian yang spesifik membuat anak lebih termotivasi untuk melakukan tingkah laku tersebut.